Cara kreatif Facebook halau gerakan dan konten radikal
Ilustrasi Facebook © 2016 marketingland.com
Techno.id - ISIS dikenal mahir dalam memanfaatkan media sosial untuk merekrut anggota baru. Selaku media sosial terbesar di dunia, tak heran rasanya jika Facebook pun patut berwaspada dengan kelompok teror tersebut.
-
CEO Facebook dan CEO Twitter jadi target teror ISIS selanjutnya? Ini adalah respons dari grup militan itu terhadap langkah Facebook dan Twitter yang memblokir akun-akun yang berhubungan dengan ISIS.
-
Diam-diam, Twitter juga berjuang perangi ISIS Salah satu media sosial besar ini juga sedang berjuang untuk memerangi ISIS, dengan caranya sendiri...
-
Twitter klaim telah hapus 125 ribu akun yang berhubungan dengan ISIS Pihak Twitter bahkan berencana mengajak kerja sama penegak hukum untuk mengatasi perkembangan akun bermuatan konten terorisme.
Ya, situs besutan Mark Zuckerberg itu ternyata mempunyai langkah kreatif dalam membendung berbagai konten radikal. Mengutip laman Wall Street Journal (11/02), yaitu dengan 'pidato balasan' atau counter speech.
Secara garis besar, counter speech adalah pesan-pesan yang berbau positif (khususnya lawan kata dari radikalisme). Yang perlu diketahui, perlawanan ini bukanlah sekadar lisan saja, melainkan juga berupa tindakan.
Sebagai contoh, tahun lalu Facebook mengizinkan seorang mantan anggota ISIS membuat akun palsu untuk berkomunikasi dengan mantan rekan-rekannya. Facebook mengklaim, cara ini sangat efektif di percakapan jangka panjang.
Di beberapa kasus, Facebook juga mengajak para mahasiswa membuat pesan-pesan positif (counter speech) untuk melawan para eksrimis. Facebook bahkan menawarkan kredit iklan senilai USD 200 hingga 1.000 sebagai balasan.
BACA JUGA :
- "Baiknya konten-konten berbau LGBT dihapus saja"
- Facebook Messenger uji coba fitur multi-akun dan SMS di Android
- India blokir internet gratis Facebook, bagaimana dengan Indonesia?
- Ini 6 'perangkap' terbaik untuk menjaring konsumen di tahun 2016
- Mau baterai iPhone tahan lebih lama? Hapus saja aplikasi Facebook
(brl/red)