Di era Internet-of-Things, profesi ahli matematika bakal laris
Ilustrasi Internet of Things © 2015 weedezign/Shutterstock.com
Techno.id - Disadari atau tidak, umat manusia saat ini sedang berada di jalur menuju era Internet-of-Things (IoT). Saat waktu tersebut tiba, tiap peranti bakal saling terhubung dengan internet dan interaksi user dengan mereka pun makin mudah. Nah, di balik fenomena tersebut, ternyata ada satu profesi yang bakal berkontribusi besar, yakni ahli matematika.
-
Saat era Internet-of-Things tiba nanti, regulasi bakal banyak berubah Yang paling banyak mengalami perubahan vital ialah sektor pemerintahan.
-
9 Tren teknologi 2021 wajib kamu tahu, ladang empuk karier masa depan Tren-tren ini sudah mulai diterapkan di berbagai sektor kehidupan. Ke depannya, banyak pekerjaan yang membutuhkan tren-tren ini. Mau mencoba?
-
Alfamart persiapkan diri songsong era IoT Demi mempersiapkan diri menghadapi era big data dan IoT, Alfamart mengaku telah menyiapkan dana khusus untuk transformasi di bidang IT.
Memang, programmer, developer, atau pihak terkait lainnya masih sangat dibutuhkan. Akan tetapi, ahli matematika juga memegang peran vital. Sebab, di tangannyalah analisa data-data besar bakal tercipta.
Bahkan, menurut pengamatan dari Software AG, profesi sebagai pakar perhitungan tersebut akan laris diburu perusahaan besar maupun badan pemerintahan.
Bart Schouw, Direktur IBO Solutions, bagian dari Software AG, mengatakan kalau IoT adalah revolusi besar bagi umat manusia. Untuk itu, tiap sektor seharusya siap menyongsong era ini.
"Sektor-sektor seperti pengamanan dan pemerintahan harus terus ditingkatkan, karena IoT mulai berdampak pada kehidupan kita sehari-hari," tandasnya, seperti dikutip dari rilis pers perusahaan software komputer itu (03/06/15).
BACA JUGA :
- Sebelum dikomersialkan, Huawei uji jaringan 4,5G di Timur Tengah dulu
- Berkat bocah berusia 15 tahun, kini tanaman bisa berkicau di Twitter!
- Fitbit dan Xiaomi kuasai pasar wearable gadget dunia
- Menkominfo ramalkan bakal ada operator telekomunikasi yang tumbang
- Pengguna media sosial lebih rentan terkena serangan cyber
(brl/red)