PLTN Rusia bangun data center terbesar bertenaga nuklir
Ilustrasi reaktor nuklir © 2015 Shutterstock
Techno.id - Merujuk kebijakan pemerintah Rusia yang ingin menyimpan data warga di tanahnya sendiri, operator Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Rosenergoatom dilaporkan tengah membangun sebuah data center terbesar yang pernah ada di Rusia.
-
Masyarakat Indonesia sekarang mulai sadar nuklir, wow! Indonesia sampai saat ini memiliki tiga lokasi reaktor nuklir meski untuk skala penelitian (non energi).
-
Bangun data center global ke-15, Google siapkan Rp 8,2 triliun Google: Data center ke-15 kami akan menjadi data center yang paling canggih di dunia
-
TelkomSigma makin agresif ekspansi kapasitas data center Siap hadapi tantangan para pemain baru di tahun 2016 mendatang, TelkomSigma akan bersikap lebih agresif
Sebagaimana dikutip dari The Register (27/11), data center ini akan disokong oleh pembangkit listrik tenaga nuklir Kalinin di Udomlya. Diklaim, pembangkit ini mampu menghasilkan tenaga sebesar 80 megawatt guna menyuplai 10.000 rak data center.
Menurut informasi yang beredar, 10 persen dari kapasitas data center ini nantinya akan disimpan untuk perusahaan milik negara (BUMN). Sedangkan 90 persen sisanya akan disisihkan untuk kebutuhan komersil dari perusahaan-perusahaan lokal maupun asing.
Sementara itu, Rosenergoatom sendiri saat ini telah mengoperasikan sebanyak 10 PLTN dengan 33 unit reaktor. Mereka pun menargetkan diri untuk menambah jumlah reaktor hingga 59 unit di tahun 2030 mendatang.
Lebih lanjut, Rosenergoatom juga dikabarkan tengah melakukan negosiasi dengan Google dan Facebook. Adapun tujuan mereka tak lain adalah membuat duo raksasa internet itu bersedia memindahkan data penggunanya (dari Rusia) ke tanah Rusia itu sendiri.
BACA JUGA :
- Hadir di Bali, Gamatechno ingin wujudkan smart city di pulau dewata
- Lenovo sebut pasar Jambi sangatlah potensial
- Sudah tahu kalau bahasa 'Star Wars' kini tersedia di Google Translate?
- USB Type-C-nya dikritik Google, OnePlus siap kembalikan uang pembeli
- Honeywell kembali ajak guru Indonesia ikuti program simulasi astronot
(brl/red)