Kabel optik Telkom Putus di perairan Sarmi
Techno.id - Dilansir dari Antara (26/07/15), Kabel optik milik PT Telkom kembali putus di wilayah perairan Kabupaten Sarmi pada Minggu pagi akibat terjadinya gempa bumi.
-
Waktu perbaikan kabel optik Telkom yang putus belum bisa diprediksi Pihak Telkom masih menunggu kapal NEC dari Jepang.
-
Penyebab gangguan jaringan Telkomsel di Papua belum diketahui Hingga saat ini, penyebab gangguan jaringan internet Telkomsel di Papua yang terjadi kemarin (20/4/15) belum diketahui.
-
Telkom kucurkan dana Rp 3,6 triliun untuk bangun SMPCS di Papua Telkom menggelontorkan dana hingga Rp 3,6 triliun untuk membangun jaringan serat optik SMPCS.
Hal ini diungkapkan oleh General Manager ICT Network Telkomsel Regional Papua-Maluku Permata Simarmata, dalam dua hari terjadi gangguan terhadap Sulawesi, Maluku, Papua Cable System (SMPCS) yang pertama di perairan Sorong, Papua Barat dan yang terbaru di perairan Sarmi, Papua.
"Kabel optik dari Sabtu (25/7) pukul 14.00 putus di Sorong, tepatnya di 8,6 KM dari Sorong menuju Pantai, tapi itu bisa diperbaiki tadi pagi jam 5," ujarnya dikutip dari Antara.
"Di Jayapura ternyata masih putus juga di Sarmi putus karena dampak gempa yang terjadi tadi pagi, letaknya di 367 KM dari Jayapura menuju ke Sorong," sambung Simarmata.
Akibat dari putusnya kabel optik tersebut, ungkapnya, membuat jaringan seluler dan data di beberapa wilayah mengalami gangguan.
"Merauke tidak terpengaruh, yang terpengaruh Jayapura, Wamena, Keerom," ucapnya.
Namun, untuk mengantisipasi hal tersebut, kini Telkomsel telah mengaktifkan jaringan satelit yang kapasitas datanya jauh lebih kecil dibanding SMPCS.
"Telkomsel telah menyiapkan back up satelit dengan kapasitas 686 MB," katanya.
BACA JUGA :
- Telkom jamin layanan prima di lima lokasi penting
- Telkom dukung Smart City dengan fasilitas taman edukasi di Denpasar
- TelkomSigma makin agresif ekspansi kapasitas data center
- Manjakan pelanggan kala mudik, Telkomsel siapkan aplikasi untuk mudik
- Telkom keluhkan hambatan yang dialami untuk modernisasi infrastruktur
(brl/red)