i-Doser, digital drugs yang banyak diperdebatkan

Ilustrasi digital drugs © stoneyroads.com
Techno.id - Sejak beberapa hari yang lalu, berita seputar i-Doser menyeruak di berbagai media online. Apa sih i-Doser itu? i-Doser adalah sebuah aplikasi, yang bisa diunduh dengan mudah dan menggunakan gelombang suara untuk menstimulasi otak manusia.
Awalnya, aplikasi ini digunakan untuk kepentingan relaksasi dan mengubah mood. Namun seiring berjalannya waktu, aplikasi ini mulai dikembangkan menjadi beberapa aplikasi baru yang tentu saja memiliki efek berbeda. Syarat mutlak untuk menggunakan aplikasi ini adalah dengan menggunakan headset (bukan speaker), dan harus dipastikan bahwa penggunanya tak berhenti di tengah.
-
BNN tegaskan bahwa I-Doser bukan narkoba I-Doser bukan termasuk golongan narkotika, tetapi hanya aplikasi yang dapat menstimulasi otak melalui lantunan suara.
-
Putuskan nasib i-Doser, Menkominfo libatkan ahli hipnotis Panel akan melibatkan pihak lain apakah itu ahli psikolog, ahli hipnotis, kita minta masukan mereka."
-
Setelah i-Doser, kini muncul Thync, alat pengejut syaraf otak Tak lagi menggunakan gelombang suara, Thync hadir dengan memberikan kejutan listrik pada otak. Apa fungsinya?
Maksudnya adalah, pengguna harus mendengarkan dari awal hingga akhir. Karena jika berhenti di tengah, tentu ada dampak lain yang mungkin tak diinginkan. i-Doser bisa ditemukan dengan mudah di App Store dan Google Play Store.
Di App Store aplikasi ini dijual dengan harga Rp 59 ribu, sedangkan di Play Store Rp 71 ribu. Namun ketika membuka Play Store, Anda akan menemukan aplikasi lain yang merupakan pengembangan dari i-Doser. Sebut saja salah satunya yaitu iStoner.
Ada versi gratis dan premium pada iStoner. Cara penggunaannya pun sama, yaitu menggunakan gelombang suara untuk menstimulasi otak. Namun bedanya, iStoner memiliki beberapa fitur dan efek yang berbeda, tergantung jenis drugs mana yang digunakan.
Dari kokain, hashish hingga LSD, bahkan viagra dan multiple orgasm pun ada di aplikasi ini. Tujuan utamanya pun sudah jelas, memanfaatkan kinerja gelombang otak dengan cara menstimulasinya menggunakan dentuman gelombang suara selama lebih kurang 30-40 menit non stop.
Lalu, jika dikategorikan sebagai narkoba, mengapa aplikasi ini dijual bebas bahkan bisa diunduh gratis? Well, tergantung dari sisi mana Anda memandangnya. Tentu saja, resiko kecanduan dan kerusakan fungsi otak ditanggung oleh para penggunanya itu sendiri.
RECOMMENDED ARTICLE
HOW TO
-
10 Aplikasi Android penghitung kalori demi diet aman saat Idul Fitri, jangan sampai gagal
-
10 Game Android Seru untuk 4 pemain atau lebih ini dijamin bikin silahturahmi makin asyik
-
10 Gaya selfie seru bersama sahabat saat mudik lebaran, kangen langsung hilang!
-
20 Cara antisipasi agar HP tetap bisa internetan saat perjalanan mudik, bikin hati jadi tenang
-
15 Solusi ampuh atasi signal HP lemah saat mudik ke pedalaman, santai tetap bisa internetan lancar
TECHPEDIA
-
10 Fitur canggih iPhone 16E, bakal jadi HP Apple termurah di bawah Rp 10 juta?
-
10 HP Xiaomi in bakal kebagian AI DeepSeek, bisa kalahkan AI dari Google atau ChatGPT?
-
Waspada, undangan pernikahan palsu lewat HP ini berisi virus berbahaya
-
Bocoran Smartphone Samsung layar lipat tiga, dari HP kecil jadi tablet layar lebar
-
Israel pakai spyware serang WhatsApp, targetkan lebih dari 100 jurnalis dan aktivitis
LATEST ARTICLE
HOW TO Selengkapnya >
-
10 Aplikasi Android penghitung kalori demi diet aman saat Idul Fitri, jangan sampai gagal
-
10 Game Android Seru untuk 4 pemain atau lebih ini dijamin bikin silahturahmi makin asyik
-
10 Gaya selfie seru bersama sahabat saat mudik lebaran, kangen langsung hilang!
-
20 Cara antisipasi agar HP tetap bisa internetan saat perjalanan mudik, bikin hati jadi tenang