Akankah zaman es kembali terjadi di tahun 2030?

Ilustrasi zaman es © 2015 YouTube
Techno.id - Ada sebuah temuan menarik sekaligus mengejutkan dalam konferensi National Astronomy yang digelar awal Juli lalu di Llandudno, Wales. Temuan tersebut diungkapkan oleh seorang profesor bernama Valentina Zharkova, yang mengatakan bahwa bumi akan kembali menghadapi zaman es di tahun 2030 mendatang.
Seperti dikutip Daily Mail (10/07/2015), temuan tersebut mengatakan bahwa matahari akan mengalami siklus yang tak teratur selama 11 tahun, yakni antara tahun 2030 hingga 2040. Di siklus tersebut, aktivitas matahari akan menurun hingga 60 persen dan berpotensi menyebabkan lahirnya 'zaman es kecil' di bumi.
-
Bumi diprediksi akan membeku pada tahun 2030 Pernahkah kamu berpikir bahwa matahari tidak akan menyinari bumi lagi? Mungkin terdengar menyeramkan dan tak bisa digambarkan.
-
Ini penyebab Mars kehilangan lapisan atmosfernya Dulu, Mars memliki lapisan atmosfer setebal Bumi. Apa yang menyebabkannya berkurang terus secara bertahap?
-
Bumi akan gelap bertahun-tahun jika hal ini terjadi, ngeri banget! Ini berhubungan dengan pergeseran kutub Bumi.
Temuan mengejutkan profesor Zharkova ini bukan berarti tak berdasar. Pasalnya, ia dan timnya telah mempelajari kondisi serupa yang sudah pernah dialami bumi sekitar 370 tahun yang lalu, tepatnya antara tahun 1645 hingga 1715. Fenomena pasifnya matahari kala itu (yang menyebabkan bumi menghadapi zaman es) dinamakan 'Maunder Minimum'.
Hingga pada akhirnya di tahun 1843 kemudian, para ilmuwan dunia untuk yang pertama kalinya berhasil menemukan pola aktivitas matahari saat berada di siklus yang bervariasi (tak beraturan). Siklus ini pun akhirnya diketahui berkisar selama 10 hingga 12 tahun lamanya.
Dari sejarah tersebut, sang profesor menjelaskan bahwa fenomena Maunder Minimum terjadi karena tidak teraturnya pola pergerakan gelombang magnetik di dua lapisan dalam matahari antara belahan bagian utara dan selatan. Dampaknya, matahari tidak dapat menghasilkan energi cahaya seperti layaknya saat beraktivitas normal.
"Jika kedua gelombang tersebut digabungkan dan dibandingkan dengan data sesungguhnya dari siklus matahari, kami menemukan bahwa prediksi kami akurat 97 persen," ujar profesor Zharkova.
RECOMMENDED ARTICLE
HOW TO
-
10 Aplikasi Android penghitung kalori demi diet aman saat Idul Fitri, jangan sampai gagal
-
10 Game Android Seru untuk 4 pemain atau lebih ini dijamin bikin silahturahmi makin asyik
-
10 Gaya selfie seru bersama sahabat saat mudik lebaran, kangen langsung hilang!
-
20 Cara antisipasi agar HP tetap bisa internetan saat perjalanan mudik, bikin hati jadi tenang
-
15 Solusi ampuh atasi signal HP lemah saat mudik ke pedalaman, santai tetap bisa internetan lancar
TECHPEDIA
-
10 Fitur canggih iPhone 16E, bakal jadi HP Apple termurah di bawah Rp 10 juta?
-
10 HP Xiaomi in bakal kebagian AI DeepSeek, bisa kalahkan AI dari Google atau ChatGPT?
-
Waspada, undangan pernikahan palsu lewat HP ini berisi virus berbahaya
-
Bocoran Smartphone Samsung layar lipat tiga, dari HP kecil jadi tablet layar lebar
-
Israel pakai spyware serang WhatsApp, targetkan lebih dari 100 jurnalis dan aktivitis
LATEST ARTICLE
TECHPEDIA Selengkapnya >
-
10 Fitur canggih iPhone 16E, bakal jadi HP Apple termurah di bawah Rp 10 juta?
-
10 HP Xiaomi in bakal kebagian AI DeepSeek, bisa kalahkan AI dari Google atau ChatGPT?
-
Waspada, undangan pernikahan palsu lewat HP ini berisi virus berbahaya
-
Bocoran Smartphone Samsung layar lipat tiga, dari HP kecil jadi tablet layar lebar