Lebih dari 4 tahun, Qualcomm hasilkan Rp 118 triliun dari Samsung

Techno.id - Seperti diketahui, Galaxy S6, smartphone terbaru Samsung tidak lagi menggunakan prosesor dari Qualcomm seperti seri-seri sebelumnya. Ya, Samsung memang memutuskan untuk menggunakan prosesor buatan mereka sendiri yakni Exynos.
Qualcomm tentunya sangat 'kehilangan' dengan keputusan Samsung ini. Terlebih perusahaan penyedia prosesor untuk beberapa produk smartphone dunia tersebut telah menghasilkan triliunan rupiah dari relasi bisnis yang selama ini dijalin dengan perusahaan teknologi asal Korea Selatan tersebut.
-
Keuangan Samsung sudah membaik! Apakah Samsung akan meraup keuntungan lebih banyak setelah peluncuran Galaxy S6 nanti?
-
Samsung klaim pendapatan operasionalnya melonjak 79,8 persen Samsung juga begitu yakin ketika melaporkan perkiraan penjualan mereka dalam tiga bulan terakhir yang mencapai Rp613 triliun.
-
Samsung akan buat chip untuk AMD tahun depan Selain Apple dan Nvidia, kini AMD juga akan juga akan bekerja sama dengan perusahaan asal Korea Selatan ini.
Seperti dilaporkan oleh TweakTown (18/4/15), selama lebih dari 4 tahun kerja sama yang dilakukan antara Qualcomm dan Samsung, perusahaan yang berbasis di San Diego, California itu telah menghasilkan Rp 118 triliun. Qualcomm kabarnya memang meminta 2,5 sampai 5 persen dari harga jual setiap handset yang didukung oleh prosesor Snapdragon miliknya.
Meski saat ini, limpahan materi yang biasanya didapat dari Samsung harus terhenti karena seri Galaxy S6 sudah tidak lagi menggunakan prosesor dari Qualcomm. Namun, perusahaan tersebut dikabarkan telah menghasilkan uang sejumlah Rp 385 triliun dari bisnisnya selama ini. Bahkan, disebutkan jika sebagian besar uang yang dihasilkan tersebut adalah dari sektor paten dan lisensi royalti.
Namun, kabar dari The Business Korea menyebutkan bahwa perusahaan tersebut sedang memikirkan kemungkinan untuk memotong royalti paten agar tidak kehilangan pelanggan yang selama ini menggunakan chip prosesor darinya. Bahkan, Qualcomm sedang menyiapkan strategi untuk membagi unit lisensi teknis dari divisi manufaktur chip-nya karena prospek bisnis prosesor-nya mulai meredup.
RECOMMENDED ARTICLE
- Tahukah Anda dahulu ada keyboard yang lebih efisien ketimbang QWERTY!
- Lebih dari 4 tahun, Qualcomm hasilkan Rp 118 triliun dari Samsung
- Iran makin lancang di dunia maya, menurut laporan ini
- Tahun 1974, komputer ini sudah bisa bilang: "Saya mau pesan pizza"
- Perangi rasisme, pemerintah Perancis siapkan anggaran Rp 1,4 triliun
HOW TO
-
10 Aplikasi Android penghitung kalori demi diet aman saat Idul Fitri, jangan sampai gagal
-
10 Game Android Seru untuk 4 pemain atau lebih ini dijamin bikin silahturahmi makin asyik
-
10 Gaya selfie seru bersama sahabat saat mudik lebaran, kangen langsung hilang!
-
20 Cara antisipasi agar HP tetap bisa internetan saat perjalanan mudik, bikin hati jadi tenang
-
15 Solusi ampuh atasi signal HP lemah saat mudik ke pedalaman, santai tetap bisa internetan lancar
TECHPEDIA
-
10 Fitur canggih iPhone 16E, bakal jadi HP Apple termurah di bawah Rp 10 juta?
-
10 HP Xiaomi in bakal kebagian AI DeepSeek, bisa kalahkan AI dari Google atau ChatGPT?
-
Waspada, undangan pernikahan palsu lewat HP ini berisi virus berbahaya
-
Bocoran Smartphone Samsung layar lipat tiga, dari HP kecil jadi tablet layar lebar
-
Israel pakai spyware serang WhatsApp, targetkan lebih dari 100 jurnalis dan aktivitis
LATEST ARTICLE
TECHPEDIA Selengkapnya >
-
10 Fitur canggih iPhone 16E, bakal jadi HP Apple termurah di bawah Rp 10 juta?
-
10 HP Xiaomi in bakal kebagian AI DeepSeek, bisa kalahkan AI dari Google atau ChatGPT?
-
Waspada, undangan pernikahan palsu lewat HP ini berisi virus berbahaya
-
Bocoran Smartphone Samsung layar lipat tiga, dari HP kecil jadi tablet layar lebar